SUKSES DUNIA & AKHIRAT
Kamis, 14 April 2016
Keistimewaan dan Do’a Bulan Rajab
Keistimewaan dan Do’a Bulan Rajab
Do’a Bulan Rajab dan Sya’ban menyambut Ramadhan
اللهم بارك لنا فى رجب و شعبان وبلغنا رمضان
“Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.”
Yang artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”
Kelebihan Bulan Rajab
Beberapa hadis Rasulullah saw menunjukkan kelebihan bulan rajab:
1.Hendaklah kamu memuliakan bulan Rajab, niscaya Allah memuliakan kamu dengan seribu kemuliaan di hari Qiamat.
2.Bulan Rajab bulan Allah, bulan Sya’ban bulanku, dan bulan Ramadhan bulan umatku.
3.Kemuliaan Rajab dengan malam Isra’ Mi’rajnya, Sya’ban dengan malam nisfunya dan Ramadhan dengan Lailatul-Qadarnya.
4.Puasa sehari dalam bulan Rajab mendapat syurga yang tertinggi (Firdaus).Puasa dua hari dilipatgandakan pahalanya.
5.Puasa 3 hari pada bulan Rajab, dijadikan parit yang panjang yang menghalangnya ke neraka (panjangnya setahun perjalanan).
6.Puasa 7 hari pada bulan Rajab, ditutup daripadanya 7 pintu neraka.
7.Puasa 16 hari pada bulan Rajab akan dapat melihat wajah Allah di dalam syurga, dan menjadi orang yang pertama menziarahi Allah dalam syurga.
8.Kelebihan bulan Rajab dari segala bulan ialah seperti kelebihan Al-Quran keatas semua kalam (perkataan).
9.Puasa sehari dalam bulan Rajab seumpama puasa empat puluh tahun dan iberiminum air dari syurga.
10.Bulan Rajab Syahrullah (bulan Allah), diampunkan dosa orang-orang yang meminta ampun dan bertaubat kepada-Nya. Puasa dalam bulan Rajab, wajib bagi yang ber puasa itua.Diampunkan dosa-dosanya yang lalu. Dipelihara Allah umurnya yang tinggal.Terlepas daripada dahaga di akhirat.
11.Puasa pada awal Rajab, pertengahannya dan pada akhirnya, seperti puasa sebulan pahalanya.
12.Siapa bersedekah dalam bulan Rajab, seperti bersedekah seribu dinar,dituliskan kepadanya pada setiap helai bulu roma jasadnya seribu kebajikan, diangkat seribu derjat, dihapus seribu kejahatan –
“Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab/ Isra Mi’raj akan mendapat pahala seperti 5 tahun berpuasa.”
– “Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT.” “Barang siapa yang berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3 Rajab, maka ALLAH akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat.”
– “Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, permintaannya akan dikabulkan.”
– “Barang siapa berpuasa tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga.”
– “Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam bulanini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang siapa yang menambah(hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan pahalanya.”
Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab ini”. Dalam sebuah riwayat Tsauban bercerita : “Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW melalui sebuah kubur,lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT.
Lalu saya bertanya kepada beliau: “Ya Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda : “Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kuburnya, dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa ke atas mereka”. Sabda beliau lagi: “Wahai Tsauban, kalaulah sekiranya mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur”.
Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi ALLAH Zat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”
Sabda beliau lagi: “Sesungguhnya Rajab adalah bulan ALLAH, Sya’ban adalah bulan aku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.”
Amalan dan Dzikir Di Bulan Rajab
Di bulan Rajab terdapat amalan khusus dan amalan umum. Amalan khusus adalah amalan yang dilakukan pada hari atau malam tertentu di bulan Rajab. Adapun amalan umum adalah amalan yang dilakukan selama di bulan Rajab. Amalannya sebagai berikut:
Pertama:
Rasulullah saw juga bersabda: “Bulan Rajab adalah bulan permohonan pengampunan bagi ummatku, maka hendaknya mereka memperbanyak istighfar di dalamnya.” Yakni:
اَسْتَغْفِرُ اللهَ وَاَتُوبُ اِلَيْهِ
Astaghfirullâha wa atûbu ilayh
Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya
Kedua:
Dalam suatu riwayat disebutkan: Bagi yang tidak mampu berpuasa agar memperoleh pahala puasa di bulan Rajab, maka hendaknya setiap hari ia membaca tasbih berikut 100 kali:
سُبْحَانَ اْلاِلَهِ الْجَلِيلِ، سُبْحَانَ مَنْ لاَ يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلاَّ لَهُ، سُبْحَانَ اْلأَعَزِّ اْلاَكْرَمِ، سُبْحَانَ مَنْ لَبِسَ الْعِزَّ وَهُوَ لَهُ اَهْلٌ
Subhânal ilâhil jalîl, subhâna Man lâ yanbaghit tasbîhu illâ lahu, subhânal a’azzil akram, subhâna Man labisal ‘izzi wa huwa lahu ahlun.
Mahasuci Tuhan Yang Maha Agung, Mahasuci yang tak layak bertasbih kecuali kepada-Nya, Mahasuci Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Mahasuci Yang Menyandang keagungan dan hanya Dia yang layak memilikinya.
Ketiga:
Membaca:
يَا ذَا الْجَلالِ وَاْلاِكْرَامِ، يَا ذَا النَّعْمَاءِ وَالْجُودِ، يَا ذَا الْمَنِّ وَالطَّوْلِ، حَرِّمْ شَيْبَتِي عَلَى النَّارِ
Yâ Dzal jalâli wal-ikrâm, yâ Dzan na’mâi wal-jûd, yâ Dzal manni wath-thawl, harrim syaibatî `alan nâri.
Wahai Yang Maha Agung dan Maha Mulia, wahai Pemilik kenikmatan dan kedermawanan, wahai Pemilik anugerah dan karunia, selamatkan putihnya rambutku dari api neraka.
Keempat:
Rasululah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca di bulan Rajab Istighfar berikut sebanyak 100 kali dan mengakhirnya dengan bersedekah, Allah akan mengakhirinya dengan rahmat dan maghfirah. Barangsiapa yang membacanya 400 kali, Allah memcatat baginya pahala 100 syuhada’:
اَسْتَغْفِرُ اللهَ لا اِلهَ إِلاّ هُوَ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ وَاَتُوبُ اِلَيْهِ
Astaghfirullâha lâilaha illa Huwa wahdahu lâ syarîkalah, wa atûbu ilayh.
Aku memohon ampun kepada Allah, tiada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku bertaubat kepada-Nya.”
Kelima:
Membaca
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ
Lailâha illallâh (1000 kali).
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca di bulan Rajab Lâilâha illallâh sebanyak seribu kali , Allah mencatat baginya seratus ribu kebaikan dan membangunkan baginya seratus kota di surga.”
Keenam:
Membaca Astaghfirullâh wa atûbu ilayh, pagi dan sore sebanyak (70 kali), dan diakhiri dengan membaca doa:
اَللّهُمَّ اغْفِرْ لي وَتُبْ عَلَيَّ
Allâhummaghfirlî wa tub `alayya
Ya Allah, ampuni aku dan bukakan pintu taubat bagiku.
Dalam suatu hadis dikatakan: Barangsiapa yang membaca Istighfar pagi dan sore sebanyak 70 kali dan kemudian diakhiri dengan doa tersebut dengan mengangkat tangannya, jika ia mati di bulan Rajab matinya diridhai oleh Allah dan tidak disentuh oleh api neraka karena berkah bulan Rajab.
Ketujuh:
Membaca istighfar berikut sebanyak seribu kali agar diampuni dosanya oleh Allah Yang Maha Penyayang:
اَسْتَغْفِرُ اللهَ ذَا الْجَلالِ وَالاِْكْرامِ مِنْ جَميعِ الذُّنُوبِ وَالاثامِ
Astaghfirullâha Dzal jalâli wal-ikrâm min jamî`idz dzunûbi wal-âtsâm
Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia dari semua dosa dan kesalahan.
Kedelapan:
Membaca Surat Al-Ikhlash sebelas ribu kali atau seribu kali atau seratus kali.
Dalam suatu riwayat dikatakan: “Barangsiapa yang membaca Surat Al-Ikhlash seratus kali pada hari Jum’at bulan Rajab, ia akan memperoleh cahaya yang mengantarkan ke surga.”
Kesembilan:
Dalam suatu hadis disebutan: “Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, dan melakukan shalat sunnah empat rakaat (2 kali salam). Rakaat pertama setelah Fatihah membaca ayat Kursi seratus kali, dan rakaat kedua setelah Fatihah membaca Surat Al-Ikhlash dua ratus kali, maka saat matinya ia akan menyaksikan tempatnya di surga atau diperlihatkan kepadanya.”
Kesepuluh:
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah empat rakaat (2 kali salam) pada hari Jum’at di bulan Rajab antara shalat Zuhur dan Ashar; setiap rakaat setelah Fatihah membaca ayat Kursi tujuh kali dan Surat Al-Ikhlash, kemudian sesudah salam membaca Astaghfirullâhalladzî lâilâha illâ Huwa wa as-aluhut tawbah (10 kali), Allah mencatat baginya dari hari itu (hari ia melakukan shalat) sampai hari kematiannya setiap hari seribu kebaikan; memberinya untuk setiap ayat yang ia baca satu kota di surga dari yaqut merah; untuk setiap hurufnya satu istana di surga dari mutiara; diberinya pasangan bidadari dan diridhai tanpa sedikitpun murka; dan Allah mencatatnya sebagai orang-orang ahli ibadah, dan mengakhiri hidupnya dengan kebahagiaan dan pengampunan yang terbaik.”
Kesebelas:
Puasa tiga hari: hari kamis, Jum’at dan Sabtu.
Dalam suatu hadis disebutkan: “Barangsiapa yang berpuasa pada Kamis, Jum’at dan Sabtu di bulan-bulan yang mulia, Allah mencatat baginya ibadah sembilan ratus tahun.”
Kedua belas:
Shalat enam puluh rakaat selama bulan Rajab; setiap malam dua rakaat, setiap rakaat setelah Fatihah membaca Surat Al-Kafirun (3 kali) dan Surat Al-Ikhlash (sekali). Sesudah salam membaca doa berikut sambil mengangkat tangan:
لا اِلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَريكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، يُحْيي وَيُميتُ، وَهُوَ حَيٌّ لا يَمُوتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْيء قَديرٌ، وَاِلَيْهِ الْمَصيرُ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظيمِ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد النَّبِيِّ الاُْمِّيِّ وَآلِهِ
Lâilaha illallâhu wahdahu lâ syarîkalah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyî wa yumît, wa Huwa hayyun lâ yamût, biyadihil khayr wa Huwa ‘alâ kulli syay-in qadîr, wa ilayhil mashîr, walâ hawla wala quwwata illâ billahil `aliyyil `azhîm. Allahumma shalli `alâ Muhammadin an-nabiyyil ummi wa âlihi.
Tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dialah Yang Menghidupkan dan mematikan. Dia Yang Hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, kepada-Nya kembali segalanya, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Tinggi dan Maha Agung. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad Nabi yang ummi dan keluarganya.
Diriwayatkan dari Nabi saw bahwa orang yang melakukan amalan tersebut Allah mengijabah doanya dan memberinya enam puluh pahala haji dan umrah.
Ketiga belas:
Rasulullah saw bersabda: “orang yang membaca Surat Al-Ikhlash (100 kali) dalam shalat sunnah dua rakaat di malam bulan Rajab, nilainya sama dengan berpuasa seratus tahun di jalan Allah, dan memberinya seratus istana di surga, setiap istana bertetangga dengan para Nabi (as).”
Keempat belas:
Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca setiap hari dan malam di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan Surat Al-Fatihah, ayat Kursi, Surat Al-Kafirun, Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing (3 kali), kemudian membaca masing-masing (3 kali):
سُبْحانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلا اِلهَ إلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظيمِ
Subhânallâhi wal-hamdulillâhi, wa lâilâha illallâh wallâhu akbar, walâ hawla walâ quwwata illâ billâhil `aliyyil `azhîm.
Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung
اَللّـهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّد وَآلِ مُحَمَّد
Allâhumma shalli `alâ Muhammadin waâli Muhammad
Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
اَللّـهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤمِنينَ وَالْمُؤمِناتِ
Allâhummaghfir lil-mu’minîna wal-mu’minât
Ya Allah, ampuni kaum mukminin dan mukminat
Kemudian membaca istighfar berikut (400 kali):
اَسْتَغْفِرُ اللهَ وَاَتُوبُ اِلَيْهِ
Astaghfirullâha wa atûbu ilayh
Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya,
maka Allah swt akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya walaupun sebanyak tetesan hujan, daun-daun pepohonan, dan buih di lautan.”
Keutamaan di Bulan Sya’ban
Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan.
Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilupakan. Padahal semestinya tidaklah demikian. Dalam bulan Sya’ban terdapat berbagai keutamaan yang menyangkut peningkatan kualitas kehidupan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam lingkup kemasyarakatan.
Karena letaknya yang mendekati bulan Ramadhan, bulan Sya’ban memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda,
ذاكَ شهر تغفل الناس فِيه عنه ، بين رجب ورمضان ، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين، وأحب أن يرفع عملي وأنا صائم — حديث صحيح رواه أبو داود النسائي
”Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang, karena letaknya antara bulan Rajab dengan bulan Ramadan. Bulan Sya’ban adalah bulan diangkatnya amal-amal. Karenanya, aku menginginkan pada saat diangkatnya amalku, aku dalam keadaan sedang berpuasa.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak daripada ketika bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antar bulan Rajab dan Ramadhan.
Karenanya, pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, sungguh Allah banyak sekali menurunkan kebaikan-kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), danitqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).
Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam.
Karena, di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.
Nishfu Sya’ban
Sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut sebagai Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban atau tanggal 15 Sya’ban.
Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atid, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.
Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurut al-Ghazali, pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.
Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh.
Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban dalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Dari sini, umat Islam dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
Keistimewaan Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang besar. Semua amal soleh yang dilakukan pada bulan ini akan mendapat balasan lebih banyak dan lebih baik. Oleh karena itu kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal kebajikan dan meninggalkan kemaksiatan. Diantara keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadhan tersebut, disebutkan dalam beberapa riwayat:
1. Ramadhan adalah bulan penuh berkah, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan pun dibelenggu. Pada bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ
Telah datang Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. (HR. Ahmad)
2. Allah SWT membebaskan penghuni neraka pada setiap malam bulan Ramadhan.
Rasulullah SAW bersabda:
إذَا كَانَ أوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِرَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِيْنُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أبْوَابُ الجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِيْ مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ وَذَلِكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
Jika awal Ramadhan tiba, maka setan-¬setan dan jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang dibuka. Sedangkan pintu-pintu surga dibuka, dan tidak satu pintu pun yang ditutup. Lalu ada seruan (pada bulan Ramadhan); Wahai orang yang menginginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang ingin kejahatan, tahanlah dirimu. Pada setiap malam Allah SWT memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka. (HR Tirmidzi)
3. Puasa bulan Ramadhan adalah sebagai penebus dosa hingga datangnya bulan Ramadhan berikutya.
Rasulullah SAW bersabda:
اَلصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَاُن إلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاةٌ مَا بَيْنَهُنَّ إذَاجْتَنَبَ اْلكَبَائِرَ
Jarak antara shalat lima waktu, shalat jum’at dengan jum’at berikutnya dan puasa Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya merupakan penebus dosa-¬dosa yang ada diantaranya, apabila tidak melakukan dosa besar. (HR Muslim)
4. Puasa Ramadhan bisa menebus dosa-dosa yang telah lewat, dengan syarat puasanya ikhlas.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)
5. Barangsiapa memberi buka orang yang puasa maka mendapat pahala sebanyak pahala orang puasa tersebut.
مَنْ فَطَرَ صَائِمًا كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أجْرِ الصَّا ئِمِ لَا يَنْقُصَ مِنْ أجْرِ الصَّائِمِ شَيْئٌ
Barangsiapa memberi perbukaan (makanan atau minuman) kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut. (HR Ahmad)
6. Sedekah yang paling baik adalah pada bulan Ramadhan.
أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ؟ قَالَ صَدَقَةٌ فَيْ رَمَضَانَ
Rasulullah SAW pemah ditanya; Sedekah apakah yang paling mulia? Beliau menjawab: “Yaitu sedekah dibulan Ramadhan.” (HR Tirmidzi)
7. Orang yang banyak beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan, maka dosa-¬dosanya diampuni oleh Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيْمَا نًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa beribadah (menghidupkan) bulan Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim)
8. Doa orang yang berpuasa adalah mustajab
Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ ؛دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ
Ada tiga macam doa yang mustajab, yaitu doa orang yang sedang puasa, doa musafir dan doa orang yang teraniaya. (HR Baihaqi)
9. Puasa dan ِAl-Qur’an yang dibaca pada malam Ramadhan akan memberi syafaat kepada orang yang mengerjakannya kelak dihari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda:
اَلصُّيَامُ وَاْلقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ يَقُوْلُ اَلصِّيَامُ أيْ رَبِّ مَنَعْتُهُُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتَ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فَيْهِ وَيَقُوْلُ اْلقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِالَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيْهِ قَالَ فَيُشَفِّعَانِ
Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: “Ya Rabbi, aku mencegahnya dari makan dan minum di siang hari”, ِAl-Qur’ an juga berkata: “Aku mencegahnya dari tidur dimalam hari, maka kami mohon syafaat buat dia.” Beliau bersabda: “Maka keduanya dibolehkan memberi syafaat.” (HR Ahmad)
10. Orang yang melaksanakan Umrah pada bulan Ramadhan maka mendapat pahala seperti melakukan Haji.
Rasulullah SAW bersabda:
فَإِنَّ عُمْرَةَ فِيْ رَمَضَانَ حَجَّةٌ
Sesungguhnya umrah dibulan Ramadhan sama dengan pahala haji. (HR Bukhari)
Dan di bawah ini 5 keistimewaan bulam ramadhan:
1. Pada awal-awal bulan ramadhan. Allah akan senantiasa memperhatikan ummat muhammad dengan detail. Segala amal perbuatan baik akan dilipat gandakan. Yang sunnah-sunnah seakan mejadi wajib sedangkan amalan-amalan wajib akan menjadi lebih dari biasanya. Dan barangsiapa yang diperhatikan oleh allah niscaya dia akan terhindar dari adzab.
2. Bau mulut orang yang berpusa yang berbau tidak sedap akan berubah menjadi wangi sekali melebihi wangi kasturi pada saat hari kiamat nanti.
3. pada setiap malam bulan ramadhan akan ada berpuluh puluh ribu malaikat yang tuun ke bumidan senentiasa memohonkan ampun bagi mereka orang orang yang memanfaatkan malmnya dengan bersimpuh, berdzikir serta beribadah pada allah.
4. allah akan memerintahakn surga untuk berhiasa diri, sehingga ummat muhammad yang akan masuk surganya allah akan senatiasa merasa nyaman dan tenang.
5. pada akhir-akhir bulan ramadhan allah akan melebur dosa-dosa bagi orang yang selalu bertakwa dan beriman pada allah.
Rabu, 21 Mei 2014
Allah Bersama Makhluk-Nya
Allah Bersama Makhluk-Nya
Keyakinan seorang hamba bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersama makhluk-Nya akan mendorongnya menjadi orang yang selalu sadar akan posisi dirinya. Ia akan merasa terus terawasi oleh Allah, sehingga gerak geriknya selalu terkontrol dan takut terjerumus dalam perilaku menyimpang, baik penyimpangan dalam bentuk ekstrim maupun penyimpangan dalam bentuk mengabaikan. Sebaliknya keyakinan inipun mendorongnya untuk berani dan lugas, ketika harus mendakwahkan kebenaran atau mempertahankannya. Sebab ia merasa Allah senantiasa menyertai, menolong dan membelanya. Sementara itu, tidak ada seseorangpun yang dapat terbebas dari pengawasan Allah.
Berikut ini adalah ringkasan yang amat ringkas tentang penjelasan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu bersama dan menyertai makhlukNya. Diringkas oleh Ustadz Ahmas Faiz bin Asifuddin dari tulisan Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Uttsaimin di dalam kitab beliau al Qawa'idul-Mutsla fi Shifatillah wa Asma'ihil-Husna. Kitab yang ditahqiq dan ditakhrij hadits-haditsnya oleh Asyraf bin 'Abdul Maqshud bin Abdur-Rahim. Penerbit Maktabah as-Sunnah, Cet. I 1411 H/1990 M.
Tulisan ini dibuat oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin dengan maksud untuk menghilangkan kesalahfahaman orang tentang sifat ma'iyyah (bersamanya Allah dengan makhluk). Dimuat di bagian belakang sebagai TA'QIB sesudah Syaikh selesai membahas kaidah-kaidah Asma' wa Shifat. Selanjutnya, langsung pada ringkasan dimaksud. Silahkan pembaca menyimak.
Berkaitan dengan masalah mai'yyah ini ada beberapa hal yang perlu dijelaskan.
Pertama : Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat selalu bersama dengan makhluk-Nya, merupakan perkara yang sudah jelas berdasarkan al Qur`an, Sunnah dan Ijma' para salaf.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. [al Hadid/57:4].
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.[an-Nahl/16:128].
Allah juga berfirman kepada Musa dan Harun, ketika keduanya diutus untuk berdakwah kepada Fir'aun:
قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
Allah berfirman: "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." [Thaahaa/20:46].
Demikian pula, Allah telah berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Jikalau tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekkah) mengeluarkannya (dari Mekkah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita". [at-Taubah9:40].
Di samping beberapa nash di atas, para salafpun telah berijma' untuk menetapkan sifat bersamanya Allah dengan para makhluk-Nya.
Kedua : Bahwa sifat bersamanya Allah terhadap makhluk ini adalah benar sesuai dengan hakikatnya. Akan tetapi, sifat bersaman-Nya itu adalah bersama yang sesuai dengan kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala , tidak serupa dengan bersama antar sesama makhluk.
Hal ini didasarkan pada firman Allah tentang diri-Nya:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [asy-Syura42:11].
هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah). [Maryam/19:65].
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia. [al Ikhlas/112:4].
Abu 'Umar Ibnu 'Abdil-Barr mengatakan: "Ahlu Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan seluruh sifat Allah yang ada di dalam al Qur'an dan Sunnah, serta bersepakat untuk mengimaninya dan membawanya pada pengertian yang sebenarnya, tidak pada pengertian majaz (kiasan/tidak sebenarnya). Namun Ahlu Sunnah tidak mentakyif (membayang-bayangkan bentuk sesungguhnya dari) sifat-sifat tersebut, dan tidak menetapkan batasan bagi sifat-sifat Allah dengan sifat yang terbatas".
Demikian seperti yang dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam al Fatwa al Hamawiyah yang termuat dalam Majmu' Fatawa-nya.[1]
Ketiga : Sifat bersamanya Allah dengan para makhluk ini mempunyai pengertian, bahwa Allah; ilmu-Nya, kekuasaan-Nya, Pendengaran-Nya, Penglihatan-Nya, kesultanan-Nya, pengaturan-Nya, dan semua kewenangan lainnya, meliputi segenap makhluk.
Ini bila yang dimaksud dengan sifat bersama adalah bersama secara umum, tidak dikhususkan pada pribadi tertentu, atau pada suatu sifat tertentu. Misalnya adalah firman Allah Ta'ala:
وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. [Al-Hadid/57:4].
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا
Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya.Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya.Dan tiadak (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di manapun mereka berada. [al Mujadilah/58:7].
Namun jika sifat bersama itu ditujukan khusus kepada pribadi tertentu atau kepada suatu sifat tertentu, maka makna bersama di situ adalah bersama dalam arti untuk memberikan pertolongan, pembelaan, taufiq dan pelurusan.
Contoh sifat bersama yang dikhususkan pada pribadi tertentu ialah firman Allah Ta'ala kepada Musa dan Harun:
قَالَ لَا تَخَافَا ۖ إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ
Allah berfirman: "Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat". [Thaahaa/20:46].
Juga firman Allah Ta'ala tentang Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
Diwaktu dia (Muhmmad) berkata kepada sahabatnya: "Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita". [at Taubah/9:40].
Sedangkan contoh sifat bersama yang dikhususkan pada suatu sifat tertentu ialah firman Allah Ta'ala:
وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. [al Anfal/8:46].
Dan masih banyak contoh lainnya.
Keempat : Sifat bersamanya Allah dengan makhluk ini, sama sekali tidak berarti bahwa Dzat Allah bersama-sama berbaur dengan makhluk atau menempat di tempat-tempat mereka.
Jadi Allah yang senantiasa bersama makhluk-Nya itu, sama sekali tidak menunjukkan pembauran dan percampuran dengan makhluk, ditinjau dari sudut manapun. Sebab faham yang demikian adalah faham yang batil. Mustahil bagi Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Luhur. Tidak mungkin makna yang dikandung dari kalam Allah dan kalam RasulNya merupakan makna yang batil.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Kitab al Aqidah al Wasithiyah berkata:
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ (Dan Allah bersamamu) –QS al Hadid/57 ayat 4- tidaklah berarti bahwa Allah bercampur baur dengan makhluk-Nya. Sesungguhnya makna seperti ini tidak ditunjukkan oleh bahasa Arab. Bahkan bulan, salah satu di antara tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala yang merupakan salah satu makhluk Allah yang kecil, ternyata bulan itu tetap terletak di atas, namun ia bersama (menyertai) orang yang tengah dalam perjalanan dan bersama orang yang tidak sedang dalam perjalanan, dimanapun mereka berada.[2]
Tidak ada seorangpun yang memahami makna batil semacam ini, kecuali kaum hululiyah (yang berfaham manunggaling kawulo lan gusti (bersatunya Tuhan dengan makhluk) dari kalangan orang-orang Jahmiyah kuno dan orang-orang yang sefaham dengan mereka. Yaitu orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya Dzat Allah ada dimana-mana". Maha Tinggi dan Maha Suci Allah dari perkataan keji mereka. Betapa besar kekejian perkataan yang keluar dari mulut mereka. Dan betapa dusta mereka itu.
Pernyataan kaum hululiyah ini sudah menuai bantahan dari ulama Salaf yang sempat mendengar perkataan jahat mereka.
Kelima : Sifat bersamanya Allah dengan makhluk tidak bertentangan dengan sifat Maha Tingginya Allah di atas segenap makhluk dan sifat bersemayamnya Allah di atas 'Arasy.
Sesungguhnya sudah jelas sekali bahwa Allah memiliki sifat Maha Tinggi yang mutlak. Maha Tinggi Dzat-Nya dan Maha Tinggi Sifat-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. [al Baqarah/2:255]
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى
Sucikanlah nama Rabbmu Yang Maha Tinggi. [al A'la/87:1].
وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [an Nahl/16:60].
Banyak sekali dalil yang menunjukkan bahwa Allah Maha Tinggi, baik dari al Qur`an, Sunnah, Ijma', akal maupun fitrah. Namun Maha Tingginya Allah tidak bertentangan dengan ma'iyyah-Nya (bersamanya Allah dengan makhluk). Hal itu dapat dijelaskan melalui beberapa penjelasan.
1. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggabungkan sifat Maha Tinggi di satu sisi dan sifat selalu bersama dengan makhluk di sisi lain dalam Kitab-Nya, al Qur`anul-Karim. Kitab yang ayat-ayatnya tidak mungkin bertentangan satu sama lain.
وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Kalau sekiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. [an-Nisa' : 82]
2. Berkumpulnya sifat Maha di atas dengan sifat selalu bersama makhluk, sangat mungkin bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sebab antara sifat di atas dan sifat bersama-sama juga mungkin bagi makhluk. Bulan yang berada di atas, dikatakan bersama-sama dengan manusia di muka bumi. Dan itu tidak bertentangan. Apalagi bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Jika antara sifat di atas dengan sifat bersama-sama makhluk diandaikan tidak mungkin bagi makhluk, maka tidaklah demikian bagi Allah. Bagi Allah tetap mungkin. Sebab tidak ada sesuatupun yang dapat diserupakan dengan Allah Azza wa Jalla .
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. [asy-Syura/42:11].
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam al 'Aqidah al Wasithiyah mengatakan: "Apa yang disebutkan dalam al Qur`an maupun Sunnah bahwa Allah Maha dekat dan Maha bersama makhluk, tidaklah bertentangan dengan apa yang disebutkan (dalam al Qur`an maupun Sunnah) bahwa Allah Maha Tinggi dan Maha di atas. Sebab tidak ada sesuatupun yang dapat menyerupai Allah dalam semua sifat-Nya. Dia Maha Tinggi, tetapi sekaligus Maha dekat. Maha Dekat sekaligus Maha Tinggi".[3]
Demikianlah ringkasan apa yang ditulis Syaikh Muhammad bin Shalih al 'Utsaimin rahimahullah . Intinya, setiap muslim harus mengimani bahwa Allah senantiasa bersama makhluk-Nya dan senantiasa menyertai serta mengawasi mereka di manapun mereka berada. Baik berupa kesertaan umum bagi seluruh makhluk, maupun berupa kesertaan khusus bagi orang-orang tertentu yang berbentuk pembelaan, pertolongan dan taufik. Wallahu a'lam
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun X/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Majmu' Fatawa Syaikhil Islam Ibnu Taimiyyah (V/87).
[2]. Lihat Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syarah Syaikh Shalih al Fauzan, Cet. VI-1413 H/1993 M, Maktabah al Ma'arif, Riyadh, hlm. 129, di bawah sub judul: Wujub al-Iman bi Istiwa'illah 'ala Arsyihi wa 'Uluwwihi 'ala Khalqihi wa Ma'iyyatihi li Khalqihi wa Annahu laa Tanafa Bainahuma.
[3]. Lihat Syarh al Aqidah al Wasithiyah, Syarah Syaikh Shalih al Fauzan, Cet. VI-1413 H/1993 M, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, hlm. 134, di bawah sub judul Wujub al-Iman bi Qurbihi min Khalqihi wa Anna Dzalika la Yunaafi 'Uluwwahu wa Fauqiyyatahu.
Jumat, 22 November 2013
JALAN KEMULIAAN
Doa Kebaikan Dunia dan Akhirat
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً,
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia
وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً,
WAFIL-AAKHIROTI _HASANAH"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di akhirat
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
WAQINAA ‘ADZAABANNAAR
dan peliharalah kami dari siksa neraka".
سورةالبقرة ﴿٢٠١﴾
(QS. Al-Baqoroh j;2 a;201 s;2).
Selamat datang wahai sahabat di blogku ini yang semua Tulisannya
kukumpulkan dari Artikel2 yang pernah kubaca dan postingan-postingan ku
di forum-forum yang saya ikuti mudah-mudahan ada manfaatnya,.......buat
sahabat dan terutama buat diriku sendiri yang sedang meniti jalan menuju
Ridha Allah Azza Wa Jalla,....Amin Ya Rabbal 'Alamin,.....
- 1. Assalamu’alaikum Wr. Wb. Dengan memohon kemurahan dan kasih sayang Allah Kami Persembahan untuk Anda para Insan Teladan Semoga menginspirasi untuk sukses kehidupan anda yang gemilang Kutipan dari buku Total Manajemen Berbasis Al Fatihah
- 2. Lipatgandakan potensi anda untuk meraih Visi tertinggi sukses hakiki. Mendayagunakan & Mensinergikan potensi meraih Sukses Hakiki dengan Rumus Kehidupan Al Fatihah Pembuka Sukses
- 3. Iqro ”= Bacalah” Temukan Wawasan dan Kesadaran Cakrawala Sukses Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari air yang memancar (air mani) Bacalah ayat Qauliyah Al Quran dan Bacalah ayat Kauniyah kehidupan di dunia , Lalu bacalah berulang-ulang dapatkan kemuliaan. dapatkan kesadaran hakiki, sadari keberadaan diri. Bacalah , dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq,96:1-5)
- 4. Pelajaran Al Qur’an, dari wahyu pertama ”Iqro” yang menjadi kerangka dalam membaca kehidupan, Al Fatihah membuka jalan sukses dan harus menjadi komitmen dalam menjalani kehidupan. Al Baqaroh langkah awal menjalani kehidupan penuh berkah kebaikan taqwa, Perjalanan kehidupan adalah ujian dan perjuangan mencapai kesuksesan kebahagiaan yang hakiki dengan panduan dan penjabaran Al Qur’an dan Tuntunan sunnah Rasul, bergerak dengan iman, islam dan ihsan. Kemenangan didapatkan karena pertolongan Allah tasbih dan istigfar senantiasa terhujam dalam ucapan dan tindakan sukses hingga akhirnya seluruh langkah terwujud dalam keihklasan yang terangkum dalam al ihklas. Al Falaq dan annas menutup dengan perlindungan total. Wahyu terakhir kesempurnaan aturan Allah, kenikmatan yang harus disyukuri dan keridhoan ALLAH menjadi keyakinan mantap dalam gerak meningkatkan sukses. Al Fatihah (Ummul Kitab) . dijabarkan dalam seluruh surat Al Qur’an. 7 ayat menjadi gerak siklus sukses dalam kehidupan layaknya thawaf.
- 5. Inspirasi & Kajian “Al Fatihah” Katakanlah: "Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (Al Kahfi : 109)
- 6. 1. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Engkaulah tujuan hakiki kami, Engkaulah sumber Kemurahan yang tak terbatas & Maha Kasih sayangMu dambaan harapan kami. Sesuatu ada dan bergerak karena Engkau dan akan kembali kepadaMu Ya Allah. Terhujam Visi sukses kami
- 7. Kami bersyukur atas segala anugerah potensi dan fasilitas serta segala kenikmatan yang tak terhitung. Engkau ciptakan segala sesuatu bukti keberadaanmu dan bukti kasih sayangmu kepada para maklukMu ya Allah, Engkau yang Maha memelihara, Engkau yang Maha Mendidik hingga sempurnalah anugerah rahmat nikmatMu yang dapat kami rasakan. berkembang Potensi sukses kami 2. Segala Puji bagi Allah, Tuhan Semesta alam
- 8. Atas kemurahanMu kasih sayang Mu tambahkanlah kami wawasan, kefahaman, kesadaran dan hikmah. Agar kami dapat mengambil manfaat berlipat ganda, Sempurnakanlah anugerah curahan nikmatMu . Engkau beri kami kehidupan, kesempatan, ujian dan cobaan untuk meningkatkan derajat kami dan betapa besar samudra ampunan dan RahmatMu ya Allah. Terbuka Peluang sukses kami 3. Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
- 9. 4. Yang Menguasai Hari Pembalasan Ridlo, Rahmat, Pembalasan yang baik dan pahala harapan kami, Akheratlah balasan yang sempurna amal kami. Engkau berikan pahala syurga dan ancaman Neraka agar kami dapat memilih jalan terbaik Ya Allah, Engkau Maha adil untuk membalas segala amalan kami, kasihanilah kami, berilah kami kemudahan dan semangat untuk meraih ridloMu. Itulah sumber Motivasi Sukses kami
- 10. Kami menyadari diri ini sebagai hamba yang lemah, kami pasrahkan diri kepada Engkau. Tolonglah kami dalam menjalani kehidupan ini sesuai kehendakMu. Sebagai hambaMu kami berserah diri memohon pertolongan agar kami dapat berperan dalam hidup ini untuk kebahagiaan kami dan bermanfaat bagi sesama makhluqMu dalam rangka menunaikan amanahMu ya Allah. Kami menyadari inilah Tekad Misi Sukses kami 5. Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan
- 11. Sungguh kami memerlukan petunjuk dan pedoman dalam kehidupan kami. Engkau bimbing kami dengan tuntunanmu Al Islam dan pedoman hidup Al Quran. Inilah jalan lurus yang kami yakini dan menjadi panduan dan pedoman hidup kami yang harus kami jalani. Itulah pilihan Strategi Sukses kami 6. Tunjukilah kami Jalan yang Lurus
- 12. Dalam menjalani kehidupan ini, kami yakin dengan mengikuti jalan hamba kesayanganMu (Para Nabi, Sidiqin, Suhada dan Orang sholeh ) akan selamatlah kami. Masukkan kami dalam barisan orang-orang yang telah sukses yang telah Engkau beri nikmat, telah jelas teladan sukses kami. Jauhkan kami terhadap jalan orang orang yang menyengsarakan kami jalan orang yang Engkau Murkai dan Sesat, Kuatkan kami untuk mengelola segala resiko yang menjatuhkan kami dalam penderitaan. Inilah Gerak sukses kami 7. Yaitu Jalan yang Engkau Beri Nikmat Atas Mereka, Bukan Jalan yang Engkau Murkai & Bukan pula Jalan yang Engkau Sesatkan
- 13. Itulah Ikhtiar kami, Sukseskanlah kami Ya Allah Rumus Kesuksesan Hakiki = Visi * Potensi * Peluang * Motivasi * Misi * Strategi * Gerak Untuk Meraih Sukses Pribadi, Keluarga, Lembaga, Masyarakat & Peradaban
- 14. Total Sukses Manajemen Wahyu pertama (Iqro’) Qs. Al Baqaroh Sd Qs. Al Ihklas An Nas Wahyu Terakhir Al Maidah : 3 Membaca memahami, kesadaran Sukses, Perilaku Sukses (Iman, Islam , Ihsan) : 1. Visi , …… tujuan yg luhur, 2. Potensi ,… Optimal, Sinergi,syukur 3. Peluang … Proaktif 4. Motivasi …..keuntungan dan kerugian 5. Misi ……… hidup bermanfaat 6. Strategi ……pedoman, perencanaan/optimasi 7. Gerak …… mengikuti & menjadi teladan Amiin. Insan Hanif, Sholeh, Taqwa Menjaga Sukses Meningkatkan Sukses (Bersyukur akan ditambah nikmat/sukses) Al Fatihah (Inspiring & Exploring Quran) Q-Sukses Model 114 Membuka sukses , Komitmen Rumus Sukses = Visi *Potensi,*Peluang,*Motivasi,*Misi,*Strategi,*Gerak
- 15. Insya Allah dengan Ihtiar Kesuksesan akan diraih oleh : Orang yang berVisi kuat Dimiliki oleh yang mendayagunakan Potensi nya Dimulai oleh orang yang mengambil Peluang Sukses Dimenangkan oleh yang ter Motivasi Sukses Dihasilkan oleh yang mempunyai Misi sukses dalam peran hidupnya Diraih dengan Strategi Sukses yang tertata Dilalui dengan Gerak amal soleh & dilipatgandakan dengan menSukseskan Orang lain Amiin. (kepada Allah kami bertawaqal)
- 16. Sukses Berdasarkan Al-qur’an Al Fatihah, Ummul Kitab yang menjadi pusat dijabarkan oleh seluruh surat Al Quran. 7 ayat yang diamalkan dalam thawaf kehidupan meraih sukses hakiki, bertawaf meraih pahala yang tidak terputus –putus.
Langganan:
Postingan (Atom)


